Ketupat Laksa Bang Darus

Jumat, 27 Agustus 2010

Buat orang Betawi tempo dulu, sarapan roti tanpa makan nasi atawa ketupat bisa dibilang "nggak aci" (percuma, red). Pasalnya, roti diangap tidak mengenyangkan selain 'stigma' sebagai makanan Belande. Makanya, sarapan pagi ala Jakarta harus dengan nasi atau ketupat. Itu sebabnya, kudapan nasi uduk dan ketupat betawi pada awalnya hanya dijumpai pagi hari sebelum orang beraktifitas. Salah satu kudapan yang nyamleng  buat sarapan adalah Ketupat Laksa Bang Darus di Kebayoran Lama, Jakarta Barat.

Menurut sejarah, laksa adalah makanan berjenis mi yang diberi bumbu sesuai kebudayaan peranakan, yang digabung dengan elemen Tiongkok dan Melayu. Ada beberapa jenis laksa. Adapun yang dikenal di Indonesia adalah jenis laksa penang. Bentuk mi-nya bulat putih dan sedikit tebal.

Nama laksa diambil dari kata dalam bahasa Sanskrit (India kuno) yaitu laksha, yang berarti banyak. Hal itu menunjukkan bahwa mi laksa dibuat dengan banyak bumbu. Kuahnya yang berwarna kekuningan terbuat dari udang rebon, sehingga rasanya menjadi khas dan segar.

Laksa betawi lazimnya berisi telur, ketupat, tauge pendek, daun kemangi, dan kucai. Ada juga yang menambahkan bihun dan perkedel, tetapi keduanya hanya sebagai variasi atau tambahan. Ketupat laksa Bang Darus tidak menggunakan kedua bahan tersebut.

”Itu cuma pilihan saja. Kalau di sini, makan laksa lauknya bisa ditambah semur betawi. Jadi rasa gurih dengan manisnya bisa membuat cita rasa tersendiri,” kata Nufi Salam yang kini menjalankan usaha kedai ketupat laksa Bang Darus. Nufi adalah menantu dari Darussalam Isa, pendiri usaha tersebut.

Kuah laksa di kedai itu agak kental tetapi tetap terasa segar ketika dimakan. Begitu ada yang pesan, penjual akan langsung meracik susunan ketupat, tauge pendek, telur, daun kemangi, dan kucai dalam satu piring, lalu disiram dengan kuah.

Mungkin Anda juga pernah mencoba laksa bogor atau laksa tangerang. Meski sama-sama bernama laksa tetapi cita rasanya berbeda. Kalau laksa bogor kuah kentalnya berasal dari potongan oncom. Lalu dalam campurannya ada ketupat, bihun, tauge panjang, suwiran daging ayam, udang dan telur rebus. Biasanya dimakan dengan sambal cuka.

Terkadang penjual laksa menyiram dan membuang kuahnya berulang kali agar bumbunya meresap ke dalam bahan-bahan yang ada. ”Kalau kami tidak perlu menyiram dan membuang kuah berulang kali. Cukup sekali tuang maka kekentalan bumbunya sudah sangat terasa,” jelas Nufi.

Agak rumit
Menurut Nufi, mengolah laksa betawi susah-susah gampang. Bumbunya sederhana, terdiri dari kunyit, lengkuas, sereh, daun salam, daun jeruk, jahe, jintan, lada, temu kunci, serta dua kilogram udang rebon. Semua bumbu dihaluskan dengan lumpang lalu ditumis dan dicampur dengan santan cair.

Bumbu baru ditambahkan dengan santan kental. Proses ini dilakukan sampai tiga kali. Sejak dahulu hingga sekarang, kata Nufi, sang ibu mertua masih aktif membantu meracik semua bumbu, sehingga rasa dari ketupat laksa ini tidak pernah berubah.

”Dengan proses yang agak rumit, tidak aneh kalau makanan ini jadi agak langka. Orang maunya langsung jadi tanpa memikirkan cara pembuatannya. Contohnya saudara saya. Dia tahu resepnya dan diajari cara membuatnya, tetapi rasanya tetap berbeda dengan yang saya buat,” tuturnya.

Dalam sehari, kedai ketupat laksa Bang Darus bisa menghabiskan hingga 200 ketupat. Belum lagi bila ada pesanan untuk pesta pernikahan. Ketupatnya terasa empuk dan teksturnya sangat bagus, karena untuk mengolahnya dibutuhkan waktu 12 jam. Ketupat itu bisa tahan hingga dua hari.

Ketupat Laksa 'Bang Darus'
Jl. As Shiroth No.2, Kampung Baru Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk
Telepon: 021-7267504

0 komentar:

Posting Komentar